Laman

Senin, 10 Oktober 2016

Burton's Style of Peculiar.

How's it goin Peeps? Welcome to my blog.

Banyak plus minus menonton film adaptasi novel jika belum membaca bukunya. Di satu sisi peeps tak bisa membandingkan kesamaan pada film dari novelnya, namun di sisi lain peeps jadi bisa terkejut pada apa yang memang menjadi daya tarik film adaptasi novel tersebut, apalagi jika dibungkus oleh penggarap yang memang menguasi genrenya. Karena itulah adalah pilihan yang tepat saat Tim Burton menyutradarai visualisasi novel karya Ransom Riggs….

MISS PEREGRINE’S HOME FOR PECULIAR CHILDREN

Satu alasan saya menyaksikan film ini yaitu ingin mendapatkan pengalaman lain dari film-film karya produser kondang, Tim Burton, yang khas dengan penciptaan karakternya yang ikonik itu. Kali ini Tim Burton mencoba lagi menciptakan film realis disamping animasi-animasi stop motion yang sudah banyak mendulang kesuksesan. Dan terbilang film ini cukup berhasil dari segala sisi. Fantasi liar yang selalu menjadi gaya Tim Burton sukses mengisi gelas imajinasi para penonton.

Seorang remaja berusia 18 tahun, Jake (Asa Butterfield) baru saja melihat kakek yang disayanginya meninggal secara misterius. Hadiah terakhir dari kakeknya lah yang mengantarkan Jake pada sebuah rumah anak-anak di daerah Wales yang dimiliki mendiang Miss Peregrine (Eva Green) yang telah menjadi reruntuhan. Atau yang sebelumnya ia pikir begitu, karena setelahnya ia bertemu dengan anak-anak yang seharusnya sudah mati hingga membuka misteri kejadian sebenarnya dan akhirnya menjawab siapa jati diri Jake serta makna dari dongeng-dongeng yang diceritakan kakeknya dahulu.

Jalan cerita film ini cemerlang. Separuh bagian dari film, penonton dibuat haus dengan jawaban-jawaban fantasi misteri yang disusun bergerak teratur. Ada titik di mana penonton harus memutar otak dan menyusun potongan-potongan puzzle film yang disuguh secara cermat. Tapi film ini tentu tidak berat dan masih cocok untuk anak-anak. Atmosfir dan variasi tokoh yang dihadirkan mengingatkan kembali penonton pada Alice in Wonderland atau Charlie and Chocolate Factory—yang juga diproduksi oleh Tim Burton. Karakter-karakter yang memiliki kemampuan spesial termasuk Emma yang beratnya lebih ringan daripada udara, Horace yang mampu memproyeksikan mimpi, Millard sang bocah transparan, dan teman-teman lainnya menambah poin keseruan dari Miss Peregrine’s Home For Peculiar Children.

Satu hal yang agak kurang yaitu konflik personal antar tokoh, tapi toh memang itu bukan arena main film ini. Dan ada satu titik di film ini yang saya rasa visualnya bisa lebih dimaksimalkan. Namun itu semua menjadi tak berarti dengan disajikannya keunikan baik dari segi tokoh maupun elemen jalan cerita yang digunakan. Penyelesaian plot ini juga pintar, sama sekali tidak menyia-nyiakan kemampuan spesial yang dimiliki tiap karakter.

Dan tentu saja yang paling ditunggu-tunggu yaitu elemen dark fairytale yang sudah menjadi trademark dari Tim Burton. Peeps mungkin bisa tertipu dengan poster film ini yang terlihat cukup ‘menyenangkan.’ Layaknya film-film format stop motion sukses sebelumnya, Nightmare Before Christmas, Coraline, Corpse Bride, 9 dan Frankenweenie. Film ini menyajikan unsur fantasi gelap dan thrill yang membuat penonton betah dua jam duduk terus selama film berlangsung. Monster antagonis di film ini juga berhasil mendorong saya bergidik karena entah kenapa sineas memutuskan untuk merepresentasikan sosok Slender-Man—yang dipadu dengan unsur makhluk dari film fenomenal Pan’s Labyrinth. Tak tanggung-tanggung, beberapa protagonis pun memiliki kemampuan spesial yang semi-mengerikan.


Film ini sedikit banyak klop dengan bulan Oktober yang memang mendekati Halloween. Miss Peregrine’s Home For Peculiar Children adalah film unik dengan gayanya sendiri. Bagi Tim Burton, film ini tentu memperpanjang daftar film live fantasynya. Suspense yang disajikan menghasilkan ketegangan tanpa jumpscare murahan. Cocok untuk anak-anak, namun bukan film anak-anak.

And that’s it. Thanks for stopping by. Have a wonderful day, stay awesome. B)

2 komentar:

  1. berarti filmnya tim burton yang ini bukan stop motion lagi nif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk film ini emang enggak bun, mungkin lbh kayak edward scissorhands dsb. Tapi kalo diperhatiin di film ini ada sebuah adegan lucu yang pake teknik stop motion, tapi cuma beberapa detik.

      Hapus