Laman

Jumat, 09 September 2016

Now Eat Brains With Chopstick.

How’s it goin Peeps? Welcome to my blog.

It’s always feel exhilarating when you share thought with people. And this time I get to share something (of for myself) different. This is a korean movie..

TRAIN TO BUSAN


Film-film yang mengangkat tema zombie-apocalypse rasanya sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Kemampuannya dalam mengangkat kombinasi genre horror action dan thrill nya lah yang menurut saya tema ini digemari para sineas. Jadi tidak salah dan tidak heran tema ini mewabah hingga ke perfilman asia termasuk korea. Saya sendiri tidak banyak tahu tentang korea entah itu film, serial, budaya, band, artis, atau embel-embel lainnya. Jadi saya tak mampu memaparkan banyak-banyak.

Train to Busan menyajikan film aksi zombie yang tak jauh berbeda dengan film zombie pada umumnya. Secara keseluruhan film ini bagus. Plot bercerita tentang seorang ayah yang berusaha mati-matian melindungi anaknya agar sampai dengan selamat ke Busan dari outbreak zombie. Kelebihan film ini salah satunya adalah kekonsistenan dalam fokus karakter, karena banyak film sejenis yang sering berpindah-pindah fokus, seperti kondisi pemerintah saat apocalypse terjadi—yang sebetulnya malah sering membuat penonton bingung menghubungkannya. Tapi Train to Busan tetap fokus pada karakter si bapak dan anak, sehingga penonton tidak kehilangan simpati di tengah jalan cerita. Akting si anak sendiri terbilang lumayan (meski sampai saat ini menurut saya Dakota Fanning di War of The World (2005) masih menang soal memerankan karakter anak di film bergenre apocalypse).

Latar film Train to Busan yang tak lepas dari kereta juga yang menjadi poin tambahan bagi film ini. Dalam set yang sempit, film ini mampu menghadirkan ketegangan yang cukup dan beberapa plot cerdas. Memang tidak dijelaskan secara spesifik mengapa outbreak terjadi dan efeknya pada lokasi lain. Tapi siapa peduli? Toh memang film ini fokus pada ruang lingkup kecil. Penutupan filmnya pun juga asal cukup menjawab masalah utamanya, kurang melegakan tapi sempurna. And this is korean. Tidak klop rasanya jika tak menampilkan drama. Karena itulah pendalaman tiap karakter dibuat sangat dramatis meski sedikit klise. Malah porsi dramanya seperti terlalu banyak untuk ukuran film zombie. Well this is korean.

Tampilan dan perawakan zombie di film ini juga sangat mengesankan. Jika peeps pernah menyaksikan World War Z yang diperankan Brad Pitt, banyak elemen zombie yang sama dihadirkan pada film ini. Kebuasan, kegesitan, kehausan, dan gelagat infeksinya. Penampilan zombie terlihat sangat detil. Luar biasa adalah kata yang pas ditujukan untuk make up artis film ini. Saya sadar beberapa set dan tampilan zombies di film ini dibuat asli dan bukan CGI. CGI film ini sendiri masih terbilang kasar dalam skala Hollywood. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi keseruan dari film ini, karena untuk skala film-film asia, CGI film ini dibilang cukup bagus, lagipula tak banyak latar yang harus ditampilkan.



Pada akhirnya saya rasa film ini cukup berani, bisa saja sang sineas menciptakan trigger plot yang lebih mudah seperti kecelakaan kereta, natural disaster, atau sejenisnya. Tapi tidak, dengan mengharapkan menjadi nilai jual yang tinggi, sineas membangun skenario zombie apocalypse. Rasanya tidak mudah jika bukan Hollywood yang membuatnya. Memang tak banyak yang berbeda, Train to Busan seperti memindahkan konsep zombie mainstream Amerika ke Korea Selatan, namun film ini mengemasnya dengan konflik yang lebih ketimur-timuran tanpa mengurangi kadar actionnya. Train to Busan bisa jadi menu baru bagi peeps yang memang penggemar film korea.

And that’s it. Thanks for stopping by. Have a wonderful day, stay awesome. B)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar