How’s it goin Peeps? Welcome to my blog.
Ehem, saya mungkin bisa dibilang cukup terlambat
menonton salah satu blockbuster paling hangat akhir musim panas ini. Film yang
selalu ramai dengan meme nya dan menjadi buah bibir baik di kalangan fans
maupun awam. Ya ini dia..
SUICIDE SQUAD
Satu dekade ini rasanya sudah menjadi formula umum
bagi sebuah film superhero untuk tidak menampilkan hanya satu hero saja. Lihat
saja Marvel’s Avenger, Guardian of Galaxy, Watchmen, Upcoming Justice League,
dan tentu saja Suicide Squad. DCEU (DC Extended Universe) pun kali ini
menawarkan konsep yang berbeda yang belum pernah ada di Universe Superhero sebelumnya,
yaitu tokoh utama yang difokuskan pada sekumpulan villain. (Sebetulnya Sony
sebelum ini sudah menggagaskan film Sinister Six (musuh-musuh Spiderman),
tetapi sejak hak ciptanya dilempar ke Marvel Studios film ini tidak ada
kejelasannya jadi atau enggak.)
Setelah peluncurannya pada 1 Agustus 2016, Suicide
Squad yang katanya bakal seheboh Deadpool ini ternyata di keroyok habis-habisan
oleh preman-preman Rotten Tomatoes, padahal film ini dipercaya akan mengubah
nasib DCEU dari kritik installment sebelumnya. Film ini bahkan menghadirkan
nuansa tone yang sedikit banyak berbeda dari dua film sebelumnya, Man Of Steel
dan BvS. Tapi kelihatannya usaha tersebut tidak cukup bagi kritikus yang kali
ini menyalahkan masalah plot film dan directing. Karena itu juga mindset saya
terhadap film ini sudah rendah dan agak ragu untuk menikmatinya. Sudah menjadi
kebiasaan saya untuk selalu mengecek rating suatu film sebelum beranjak ke
bioskop (mungkin sudah saatnya bagusnya suatu film tidak ditentukan kritikus)
Tapi toh pada akhirnya kata yang pertama muncul di
benak saya ketika menonton film ini adalah kreatif. Malah menurut saya Suicide
Squad lebih bagus daripada Deadpool yang terlalu ‘asik sendiri’ itu. Tak bisa
dipungkiri lagi senjata ampuh film ini terletak pada penokohannya—dan tentu
saja akting dari tiap pemain. Saya sebagai orang awam yang tidak pernah membaca
versi komiknya mengapresisasi variasi dari karakter yang dihadirkan. Dan
sebagai pemirsa yang baru menyaksikan akting dari Margot Robbie sebagai Harley
Quinn saya patut mengacungkan empat jari jempol pada pendalamannya. Ya,
sepertinya saya hanya mengulang apa yang sudah dikatakan semua orang, Jared
Leto—sebagai Joker—dan Margot Robbie merupakan superioritas di film ini.
Sayangnya Joker tidak mendapatkan banyak screen time seperti yang diharapkan
banyak fans. (Jared Leto mengungkapkan kekecewaannya pada final cut Suicide
Squad di salah satu video pasca perilisannya). Namun justru bagi saya hal itu cukup
tepat karena perannya di film ini tidak lain hanya sebagai penegas latar
belakang Harley Quinn. Plus kemunculan Joker di film ini juga sebagai pembuka
another potential installment.
Malah Will Smith—yang memerankan Deadshot—yang
memiliki banyak screen time bagi saya tidak terlalu spesial pada aktingnya.
Rasanya saya hanya menyaksikan versi lain Will Smith dari film Men in Black dan
I am Legend. Penokohan karakter lain seperti Captain Boomerang, Killer Croc,
Diablo, dan kawan-kawan lainnya terasa cukup namun tak lebih dari sekedar
menjalankan tugasnya saja.
Hadirnya Scott Eastwood sebagai harapan salah satu
daya tarik film ini pun tidak terasa, tokohnya hanya datang dan pergi. Entah
kenapa yang menarik justru jatuh pada Cara Delevinge yang memerankan
Enchantress, dan bagi Joel Kinnaman (saya tahu orang ini yang main film reboot
“Robocop”) dengan Flag sebagai peran yang dilakoninya memiliki nilai minus
karena kekurangan dalam penekanan kelemahannya, namun sebaliknya cukup pas
sebagai seorang prajurit yang memimpin pasukan.
Dan tentu saja permainan plot menjadi kunci yang
paling penting sebuah film di mata audiens. Sepertiga film pertama cukup
mengesankan, peeps akan dibawa berkenalan dengan villain-villain unik Suicide
Squad, format pengenalan dihadirkan layaknya film Italian Job dengan flashback
sedikit-sedikit yang terasa pas. Scene yang dihadirkan dengan backsong
lagu-lagu hard rock juga mengingatkan saya pada elemen film Guardian of The
Galaxy yang sukses. Hal ini lah yang memberikan sentuhan berbeda pada Suicide
Squad, di samping totol-totol humor yang diusung karakter secara selingan.
Duapertiga film mulai bermunculan hal yang tak
terduga, kebanyakan berisi adegan aksi serta tembak-tembakan dengan bantuan CGI
yang tidak terlalu buruk, namun plot mulai agak bergoyang di sini. Flashback
para karakter terus bermunculan dan tidak merata. Bahkan muncul karakter yang
tidak jelas asal-usulnya sebelumnya, kemunculan secara tiba-tiba karakter tanpa
bobot ini layaknya lauk pauk bonus yang tak jelas terbuat dari apa. Tapi lauk
itu tetap terasa enak menurut saya. Akting Harley Quinn lah yang kurang lebih
menyeimbangkan film yang mulai goyah ini.
Nah ini dia masalahnya ketika tiba di pertiga akhir
film. Bagi saya penyelesaian masalah utama film ini kurang masuk akal, sedikit
dipaksakan, dan banyak bagian yang berlubang. Mungkin sang editor sudah mulai
jenuh karena kebingungan terlalu banyak bagian yang harus ditampilkan di waktu
yang tidak banyak. Contohnya pada satu scene si A sedang jatuh,
tapi di scene selanjutnya si A sudah berjalan. Mungkin itu salah satu
kekurangannya. Dan porsi aksi para tokoh Suicide Squad di klimaks akhir juga
tidak merata, tapi bagi saya hal itu cukup bisa diterima karena semua karakter
tidak sama kuat. Film ini ditutup dengan cukup menyenangkan dengan tentu saja
after credit sebagai pembuka franchise lain. Suicide Squad secara keseluruhan
termasuk sajian yang manis untuk penutup musim panas.
Tapi PR besar bagi film Suicide Squad dan installment
DCEU lainnya yaitu masalah editing. Banyak gap scene yang sebetulnya berakibat
fatal karena ini adalah film blockbuster. Banyak adegan yang seharusnya menjadi
pendukung hubungan antar tokoh seperti Joker dan Harley juga terpaksa harus
dipotong di final cut demi menghadirkan jalan cerita utama. Tapi secara
keseluruhan editing film ini mendapat kemajuan dibanding installment DCEU
sebelumnya yaitu Batman v Superman.
DCEU jelas cukup ahli dalam mengadaptasi dan
menghadirkan tokoh dengan karakter yang dalam, kostum yang dibuat juga tidak
norak. Layaknya membangun sebuah pondasi, setiap latar belakang karakter dan
jalan cerita dibuat—amat sangat—luas. Contohnya di BvS peeps bisa melihat
Batman tidak langsung membenci Superman, ada banyak faktor cerita yang
mendukung kondisi tersebut, begitu juga dengan rencana Lex Luthor. Tidak
diragukan lagi DCEU memiliki banyak hal yang ingin diceritakan pada
installmentnya.
Namun ternyata hal ini juga yang menjadi bumerang, pondasi
sekokoh apapun jika berada di tanah yang dangkal tak akan berdiri tegak. DCEU
saya rasa ingin menghadirkan keseluruhan inti cerita, tapi batasan waktu 2,5
jam memaksanya mengerucut hingga poin-poinnya saja, bayangkan saja script
setebal buku telepon diringkas menjadi setebal novel saku, alhasil: absurditas,
adegan yang kurang sempurna, fokus tokoh yang melompat-lompat. Saya sejujurnya
tidak sempat menonton BvS di bioskop namun saya mendownload BvS Ultimate
Edition, yang mana edisi ini berisi adegan yang tidak dicut hingga berdurasi 3
jam totalnya. Dan ternyata bisa dibilang film ini tidak buruk, malah bisa
dimaklumi alasan mengapa Superman dan Batman berkelahi dan berdamai kembali,
tidak sesimpel Martha-Martha yang memenya ribuan itu.
Dan dengan hadirnya Suicide Squad DCEU berhasil
membuktikan cerita yang ingin disampaikan bahkan lebih kaya dari sebelumnya. Hanya
saja DCEU sudah tidak sabar dan terburu-buru ingin mengejar kesuksesan MCU
(Marvel Cinematic Universe) sehingga konsep yang telah dibuat susah-susah
seakan diambrek langsung pada penonton. Penonton awam yang tidak siap dan
sedikit buta dengan DCEU (apalagi yang sudah akrab dengan film Marvel) seakan
tersedak dengan suapan cerita yang berantakan.
Muncul argumen-argumen pada BvS, ada yang bilang film
ini terlalu susah diterima jalan ceritanya, namun ada juga yang bilang film ini
susah diterima karena jalan ceritanya terlalu cerdas. Saya sendiri setuju
dengan argumen kedua. Film ini cerdas, tapi tidak dengan editingnya. Maksud
sineas ingin membuat unsur konflik yang kuat sebagai pembangun konflik
utamanya, tapi karena sulitnya memutuskan potongan final cut, konflik yang
dimaksud pun jadi rapuh dan mudah terlupakan. Tapi saya sendiri sangat
menghargai DCEU. Saya rasa mereka sangat bersemangat ingin membangun franchise
yang mampu menyaingi Marvel yang selama ini selalu mendominasi. Tapi semua
tentu tidak mudah. Kesuksesan tidak diraih hanya dengan waktu 3 tahun. Suicide
Squad mungkin belum sempurna, tapi premis ini bisa dijadikan ajang memperbaiki
diri. Saya harap DCEU dan Warner Bros tidak menyerah dan terus membangun
Universenya. Keep up the work!
And that’s it peeps. Thanks for stopping by. Have a wonderful day, stay awesome. B)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar