Laman

Kamis, 11 Agustus 2016

Keeping Up With DCEU.

How’s it goin Peeps? Welcome to my blog.

Ehem, saya mungkin bisa dibilang cukup terlambat menonton salah satu blockbuster paling hangat akhir musim panas ini. Film yang selalu ramai dengan meme nya dan menjadi buah bibir baik di kalangan fans maupun awam. Ya ini dia..

SUICIDE SQUAD


Satu dekade ini rasanya sudah menjadi formula umum bagi sebuah film superhero untuk tidak menampilkan hanya satu hero saja. Lihat saja Marvel’s Avenger, Guardian of Galaxy, Watchmen, Upcoming Justice League, dan tentu saja Suicide Squad. DCEU (DC Extended Universe) pun kali ini menawarkan konsep yang berbeda yang belum pernah ada di Universe Superhero sebelumnya, yaitu tokoh utama yang difokuskan pada sekumpulan villain. (Sebetulnya Sony sebelum ini sudah menggagaskan film Sinister Six (musuh-musuh Spiderman), tetapi sejak hak ciptanya dilempar ke Marvel Studios film ini tidak ada kejelasannya jadi atau enggak.)

Setelah peluncurannya pada 1 Agustus 2016, Suicide Squad yang katanya bakal seheboh Deadpool ini ternyata di keroyok habis-habisan oleh preman-preman Rotten Tomatoes, padahal film ini dipercaya akan mengubah nasib DCEU dari kritik installment sebelumnya. Film ini bahkan menghadirkan nuansa tone yang sedikit banyak berbeda dari dua film sebelumnya, Man Of Steel dan BvS. Tapi kelihatannya usaha tersebut tidak cukup bagi kritikus yang kali ini menyalahkan masalah plot film dan directing. Karena itu juga mindset saya terhadap film ini sudah rendah dan agak ragu untuk menikmatinya. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu mengecek rating suatu film sebelum beranjak ke bioskop (mungkin sudah saatnya bagusnya suatu film tidak ditentukan kritikus)

Tapi toh pada akhirnya kata yang pertama muncul di benak saya ketika menonton film ini adalah kreatif. Malah menurut saya Suicide Squad lebih bagus daripada Deadpool yang terlalu ‘asik sendiri’ itu. Tak bisa dipungkiri lagi senjata ampuh film ini terletak pada penokohannya—dan tentu saja akting dari tiap pemain. Saya sebagai orang awam yang tidak pernah membaca versi komiknya mengapresisasi variasi dari karakter yang dihadirkan. Dan sebagai pemirsa yang baru menyaksikan akting dari Margot Robbie sebagai Harley Quinn saya patut mengacungkan empat jari jempol pada pendalamannya. Ya, sepertinya saya hanya mengulang apa yang sudah dikatakan semua orang, Jared Leto—sebagai Joker—dan Margot Robbie merupakan superioritas di film ini. Sayangnya Joker tidak mendapatkan banyak screen time seperti yang diharapkan banyak fans. (Jared Leto mengungkapkan kekecewaannya pada final cut Suicide Squad di salah satu video pasca perilisannya). Namun justru bagi saya hal itu cukup tepat karena perannya di film ini tidak lain hanya sebagai penegas latar belakang Harley Quinn. Plus kemunculan Joker di film ini juga sebagai pembuka another potential installment.



Malah Will Smith—yang memerankan Deadshot—yang memiliki banyak screen time bagi saya tidak terlalu spesial pada aktingnya. Rasanya saya hanya menyaksikan versi lain Will Smith dari film Men in Black dan I am Legend. Penokohan karakter lain seperti Captain Boomerang, Killer Croc, Diablo, dan kawan-kawan lainnya terasa cukup namun tak lebih dari sekedar menjalankan tugasnya saja.

Hadirnya Scott Eastwood sebagai harapan salah satu daya tarik film ini pun tidak terasa, tokohnya hanya datang dan pergi. Entah kenapa yang menarik justru jatuh pada Cara Delevinge yang memerankan Enchantress, dan bagi Joel Kinnaman (saya tahu orang ini yang main film reboot “Robocop”) dengan Flag sebagai peran yang dilakoninya memiliki nilai minus karena kekurangan dalam penekanan kelemahannya, namun sebaliknya cukup pas sebagai seorang prajurit yang memimpin pasukan.

Dan tentu saja permainan plot menjadi kunci yang paling penting sebuah film di mata audiens. Sepertiga film pertama cukup mengesankan, peeps akan dibawa berkenalan dengan villain-villain unik Suicide Squad, format pengenalan dihadirkan layaknya film Italian Job dengan flashback sedikit-sedikit yang terasa pas. Scene yang dihadirkan dengan backsong lagu-lagu hard rock juga mengingatkan saya pada elemen film Guardian of The Galaxy yang sukses. Hal ini lah yang memberikan sentuhan berbeda pada Suicide Squad, di samping totol-totol humor yang diusung karakter secara selingan.

Duapertiga film mulai bermunculan hal yang tak terduga, kebanyakan berisi adegan aksi serta tembak-tembakan dengan bantuan CGI yang tidak terlalu buruk, namun plot mulai agak bergoyang di sini. Flashback para karakter terus bermunculan dan tidak merata. Bahkan muncul karakter yang tidak jelas asal-usulnya sebelumnya, kemunculan secara tiba-tiba karakter tanpa bobot ini layaknya lauk pauk bonus yang tak jelas terbuat dari apa. Tapi lauk itu tetap terasa enak menurut saya. Akting Harley Quinn lah yang kurang lebih menyeimbangkan film yang mulai goyah ini.

Nah ini dia masalahnya ketika tiba di pertiga akhir film. Bagi saya penyelesaian masalah utama film ini kurang masuk akal, sedikit dipaksakan, dan banyak bagian yang berlubang. Mungkin sang editor sudah mulai jenuh karena kebingungan terlalu banyak bagian yang harus ditampilkan di waktu yang tidak banyak. Contohnya pada satu scene si A sedang jatuh, tapi di scene selanjutnya si A sudah berjalan. Mungkin itu salah satu kekurangannya. Dan porsi aksi para tokoh Suicide Squad di klimaks akhir juga tidak merata, tapi bagi saya hal itu cukup bisa diterima karena semua karakter tidak sama kuat. Film ini ditutup dengan cukup menyenangkan dengan tentu saja after credit sebagai pembuka franchise lain. Suicide Squad secara keseluruhan termasuk sajian yang manis untuk penutup musim panas.

Tapi PR besar bagi film Suicide Squad dan installment DCEU lainnya yaitu masalah editing. Banyak gap scene yang sebetulnya berakibat fatal karena ini adalah film blockbuster. Banyak adegan yang seharusnya menjadi pendukung hubungan antar tokoh seperti Joker dan Harley juga terpaksa harus dipotong di final cut demi menghadirkan jalan cerita utama. Tapi secara keseluruhan editing film ini mendapat kemajuan dibanding installment DCEU sebelumnya yaitu Batman v Superman.


DCEU jelas cukup ahli dalam mengadaptasi dan menghadirkan tokoh dengan karakter yang dalam, kostum yang dibuat juga tidak norak. Layaknya membangun sebuah pondasi, setiap latar belakang karakter dan jalan cerita dibuat—amat sangat—luas. Contohnya di BvS peeps bisa melihat Batman tidak langsung membenci Superman, ada banyak faktor cerita yang mendukung kondisi tersebut, begitu juga dengan rencana Lex Luthor. Tidak diragukan lagi DCEU memiliki banyak hal yang ingin diceritakan pada installmentnya. 

Namun ternyata hal ini juga yang menjadi bumerang, pondasi sekokoh apapun jika berada di tanah yang dangkal tak akan berdiri tegak. DCEU saya rasa ingin menghadirkan keseluruhan inti cerita, tapi batasan waktu 2,5 jam memaksanya mengerucut hingga poin-poinnya saja, bayangkan saja script setebal buku telepon diringkas menjadi setebal novel saku, alhasil: absurditas, adegan yang kurang sempurna, fokus tokoh yang melompat-lompat. Saya sejujurnya tidak sempat menonton BvS di bioskop namun saya mendownload BvS Ultimate Edition, yang mana edisi ini berisi adegan yang tidak dicut hingga berdurasi 3 jam totalnya. Dan ternyata bisa dibilang film ini tidak buruk, malah bisa dimaklumi alasan mengapa Superman dan Batman berkelahi dan berdamai kembali, tidak sesimpel Martha-Martha yang memenya ribuan itu.

Dan dengan hadirnya Suicide Squad DCEU berhasil membuktikan cerita yang ingin disampaikan bahkan lebih kaya dari sebelumnya. Hanya saja DCEU sudah tidak sabar dan terburu-buru ingin mengejar kesuksesan MCU (Marvel Cinematic Universe) sehingga konsep yang telah dibuat susah-susah seakan diambrek langsung pada penonton. Penonton awam yang tidak siap dan sedikit buta dengan DCEU (apalagi yang sudah akrab dengan film Marvel) seakan tersedak dengan suapan cerita yang berantakan.

Muncul argumen-argumen pada BvS, ada yang bilang film ini terlalu susah diterima jalan ceritanya, namun ada juga yang bilang film ini susah diterima karena jalan ceritanya terlalu cerdas. Saya sendiri setuju dengan argumen kedua. Film ini cerdas, tapi tidak dengan editingnya. Maksud sineas ingin membuat unsur konflik yang kuat sebagai pembangun konflik utamanya, tapi karena sulitnya memutuskan potongan final cut, konflik yang dimaksud pun jadi rapuh dan mudah terlupakan. Tapi saya sendiri sangat menghargai DCEU. Saya rasa mereka sangat bersemangat ingin membangun franchise yang mampu menyaingi Marvel yang selama ini selalu mendominasi. Tapi semua tentu tidak mudah. Kesuksesan tidak diraih hanya dengan waktu 3 tahun. Suicide Squad mungkin belum sempurna, tapi premis ini bisa dijadikan ajang memperbaiki diri. Saya harap DCEU dan Warner Bros tidak menyerah dan terus membangun Universenya. Keep up the work!

And that’s it peeps. Thanks for stopping by. Have a wonderful day, stay awesome. B)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar